Senin, 19 Oktober 2015

Laporan Akhir Peta topografi perpetaan

BAB I
PENDAHULUAN



1.1         Latar Belakanng

Perbedaan tinggi  permukaan bumi dan  unsur – unsur asli permukaan bumi baik buatan manusia maupun unsur – unsur alami yang sudah ada diatas permukaan bumilah yang melatar belakangi adanya peta topografi. Peta topgrafi merupakan peta yang dibuat berdasarkan perbedaan titik elevasi atau ketinggian pada permukaan bumi yang digambarkan dengan garis kontur berdasarkan perbedaan titik elevasinya.

1.2         Maksud dan Tujuan
1.2.1      Maksud.
Maksud praktikum perpetaan mengenai peta topografi ialah mempelajari semua aspek dalam peta topografi yang meliputi definisi tentang peta topografi dan unsur – unsur yang terkandung di dalamnya, penghitungan dan cara pembuatan peta topografi serta dapat mengetahui metode – metode dalam pembuatan peta topografi dan dapat mengaplikasikanya peta topografi secara benar.

1.2.2      Tujuan
·         Mempelajari garis – garis kontur.
·         Mengetahui cara perhitungan dalam pembuatan peta topografi..
·         Mempelajari relief permukaan bumi.
·         Dapat membuat peta topografi.



BAB II
LANDASAN TEORI


2.1       Definisi

 Peta topografi adalah peta gambaran permukaan bumi dimana garis kontur dijadikan sebagai penanda elevasi suatu wilayah dan dilengkapi dengan skala sebagai pembanding dari jarak peta kedalam gambaran yang sesungguhnya.
Pemetaan topografi adalah suatu pekerjaan di mana posisi keadaan planimetris di atas permukaan bumi dan bentuk permukaan tanah diukur dan hasilnya digambar di atasbidang datar dengan simbol – simbol peta dengan skala tertentu.
Garis kontur adalah garis pada peta yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama terhadap bidang refrensi yang digunakan. Kecuraman dari suatu lereng (stepness) dapat ditentukan dengan adanya interval kontur dan jarak antara dua kontur, sedangkan jarak horizontal antara dua garis kontur dapat ditentukan dengan cara interpolasi. Garis kontur tidak boleh saling berpotongan satu sama lain. Selain itu garis kontur harus merupakan garis yang tertutup baik di dalam maupun di luar peta.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPGDRCxrZFeMb_fai8nN_44K-dClbTS3e2V-7NIzx1hMEOcEZvMQ2BA_8fC31Z0kfQLL_dxJU9FuqZ_UsYI5gWcABGETOZwQ9AbLGf0D7VLx7pxjS1NN7qDwabCQcQMfWse3772reFHPf7/s320/clip_image007_thumb.jpg
Sumber : radar juve
Foto 1.1
Peta Topografi

Sifat-sifat garis kontur adalah sebagai berikut:
1.    Garis kontur selalu merupakan garis tertutup (loop), kecuali pada batas peta.
2.    Dua buah garis kontur dengan ketinggian yang berbeda tidak mungkin saling berpotongan.
3.    Garis kontur tidak mungkin bercabang (dalam hubungannya dengan keaslian alam, kecuali buatan manusia).
4.    Garis kontur dengan ketinggian berbeda tidak mungkin menjadi satu, kecuali pada bagian tanah yang vertikal akan digambarkan sebagai garis yang berimpit.
5.    Semakin miring keadaan tanah, kontur akan digambarkan semakin rapat.
6.    Semakin landai kondisi tanah, kontur yang digambarkan semakin jarang.
7.    kontur yang melalui tanjung/lidah bukit akan cembung kearah turunnya tanah.
8.    Garis kontur yang melalui lembah atau teluk akan cembung kearah titik atau hulu lembah.
9.    Garis kontur yang memotong sungai akan cembung kearah hulu sungai.
10. Garis kontur yang memotong jalan akan cembung kearah turunnya jalan.

Garis kontur  merupakan ciri khas yang membedakan peta topografi dengan peta lainnya dan digunakan untuk penggambaran relief atau tinggi rendahnya permukaan bumi yang dipetakan. Dari pengertian di atas dapat dipahami betapa pentingnya garis kontur antara lain untuk pembuatan trace jalan/rel dan menghitung volume galian dan timbunan.

2.2       Metode – metode pemetaan topografi

Dalam pemetaan  topografi ada metode – metode umum yang digunakan antara lain adalah:
·         Metode tacimetri dengan teodolit
·         Metode offset ( offset = jarak pendek yang diukur tegak lurus dari basis pengukuran )
·         Fotogrametri
·         Pengukuran meja lapangan
2.2.1    Metode Tacimetri

Pada pengukuran titik detil kali ini, perhitungan jarak dan beda tinggi dilakukan dengan cara tachimetri . Dengan cara tachimetri maka beda tinggi titik-titik yang di ukur dan jarak datar dilakukan dengan cara tidak langsung karena yang diukur adalah sudut miring atau sudut zenith dan jarak optis.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg997QTK5sTJ3O3ZOc8IS_QKCA33wLqNQ93fpT0xms8NRuR6ZNuqMmX7W8UvaktwwBz4BIRoJ6bRHQtLWBuHHxqkQqBxB6XvjRRLBWcvM5tckZJxu82XQyCM6kreXf7Bo7ezQV0AKPLiVA/s400/Untitled.jpg
Keterangan  gambar:
DAB                       : jarak horisontal dari titik A ke titik B
h                      :  sudut helling
ba                    : benang atas
bb                    : benang bawah
bt                     : benang tengah
tA                              : tinggi alat
            Rumus hitungan detil dengan metode tachimetri adalah sebagai berikut :
  1. Jarak dengan menggunakan rumus
dAB    = 100(ba-bb) cos2
    1. Jarak vertikal antara garis sejajar sumbu II dengan garis sejajar bt
v = dAB tan h
    1. Beda tinggi titik detil
∆hAB = ta + v - bt
    1. Tinggi titik tiap detil (nilai Z)
      HB = HA + ΔhAB

Sebelum dimulai pengukuran, terlebih dahulu dibuat sketsa yang berisi perencanaan kode tiap detil-detil baik detil planimetris maupun detil spotheight. Tahapan pengukuran detil adalah :
1.  Dirikan teodolith di titik poligon. Lakukan centering dan sumbu I vertikal.
2.  Arahkan teropong ke salah satu titik poligon yang digunakan sebagai t        itik acuan. Kemudian baca dan catat lingkaran horisontalnya
3. Dirikan rambu ukur di atas salah satu titik detil
4.  Arahkan teropong pada rambu ukur. Baca dan catat benang atas, benang tengah, benang bawah, bacaan lingkaran horisontal, dan bacaan lingkaran vertikal.
5. Pengukuran detil planimetris dilakukan dengan membidik pojok-pojok detil sehingga membentuk geometri dari detil tersebut. Sedangkan pembidikan detil spotheight dilakukan tergantung dari kerapatan titik detil yang diinginkan

2.2.2    Metode Offset
            Metode offset adalah kegiatan pengukuran titik – titik  dengan menggunakan alat – alat sederhana yaitu pita ukur dan yelon.
pita ukur.jpg
Sumber : jurve curve
Foto 2.0 pita ukur

BAB III
PEMBAHASAN




3.1       Mencari skala

Xmax  = 731, 927                                  Ymax  = 9197, 674
Xmin  = 731, 049           -                       Ymin  = 9197, 077        -
878                                                      597

Skala                 =
=

3.2       Mencari Grid
3.2.1    Jumlah grid  
=
            =
            = 5

3.2.2    Jarak Grid     
           
            Jk =
                =  

3.3       Mencari Koordinat
3.3.1    Koordinat x = ( koorinat – grid terdekat ) × skala

A.    =
B.    =
C.   =
D.   =
E.    =
F.    =
G.   =
H.   =  
I.      =
J.     =
K.     =  

3.3.2    Koordinat y = ( Koordinat – grid terdekat ) × skala

A  =
B  =
C  =
D  =  
E  =
F  =  
G  =
H  =
I    =
J    =
K   =

3.4       Jarak Kontur

            Jarak Kontur =                       IK =  = 2

AB =
AC =
BC =
BD =
CD =
BE =
DE=
AF =
CF =
CG =  
FG =
DG =
CH =
DH  =
FJ   =  
GJ  =
GK =
JK =
HK =
DI =
EI =
HI =
KI =

3.5       Jarak sisa


AC =
AB =
BD =  0, 043
BC =  
CD =
DE =
BE =
CG =
AF =
CF =  
FG =  
GH =  
DI  =  
FJ =  
GI =  
 JK =  
GK =
HK =
HI  =  

3.6     Luas

TITIK
X
Y
A
731, 176
9, 197, 077
B
731, 489
9, 197, 098
E
731, 927
9, 197, 480
I
731, 388
9, 197, 592
K
731, 406
9, 197, 674
J
731, 417
9,197, 660
F
731, 445
9, 197, 344
A
731, 176
9,197, 077

            Luas    =
                        =
                        =
                        = 390000 m2
                        = 39 ha



BAB IV
ANALISA


          Dalam praktikum yang bertemakan peta topografi ini membahas mengenai seluruh aspek mengenai peta topografi, seperti definisi peta topografi, metode – metode pembuatan peta topografi yang dimulai dari menentukan skala, menentukan banyaknya jumlah garis – garis kontur dan jarak garis – garis kontur, serta  penghitungan luas peta topografi.

·         Rumus mencari skala
·         Jumlah Grid
·         Jarak Grid
·         Interval Kontur
  
·         Jarak kontur
   JK =
·         Jarak sisa
 
·         Luas
BAB V
KESIMPULAN


            Pada pemetaan topografi garis – garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik ketinggian dari permukaan bumi yang memiliki perbedaan macam kemiringan dan ketinggian. Dalam pembuatan peta topografi memiliki cara penghitungan tersendiri, yaitu dengan mencari skala, mencari jumlah grid dari hasil pembagian Xmin dikurangi Xmax dengan panjang kertas yang akan digunakan untuk tempat penggambaran peta topografi tersebut. Setelah mentukan jumlah grid kita mencari jarak grid dengan cara menbagikan panjang kertas dengan jumlah grid yang telah dihasilkan. Setelah semuanya di hitung lalu kita masuk ke dalam proses pengeplotan, pengeplotan adalah proses penempatan titik pada peta topografi dengan cara mengurangi koordinat dengan grid terdekat lalu mengkalikanya dengan skala yang telah di dapat. Setelah titik di dapat barulah kita masuk ke tahap triangulasi atau kontur. Setelah triangulasi lalu terakhir kita menentukan luas peta topografi tersebut dengan cara mengalika titik X satu ke titik Y dua. Itulah cara – cara dalam membuat peta topografi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar